PKH DAN NILAI HIDUP MAMA MARTINA (TESTIMONI)

PKH DAN NILAI HIDUP MAMA MARTINA (TESTIMONI) Public

Felisia Debora Delsi Bebon

10 months
29 Views
Want to watch this again later?
Sign in to add this video to a playlist. Login
Share Report 0 0
Category:
Description:
"Seberapa beratpun keadaan menawarkan duka kita mesti tekun dan giat mencari hidup, jangan diam, jangan pernah mau kalah" begitu kata mama Martina kepada anak-anaknya. Ibu dari 6 orang anak ini hidup bersama anak-anaknya di sebuah kampung di Desa Ate Dalo, Kecamatan Kodi Kabupaten Sumba Barat Daya. Ia memiliki empat putri dan dua orang putra. Anak pertama dan ketiga duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), anak kedua dan keempat masih Sekolah Dasar (SD) sedangkan anak kelima mengalami keterbelakangam mental sehingga tidak sekolah dan yang keenam masih berusia dibawah lima tahun. Setelah suaminya meninggal, sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga ia harus melakukan apapun untuk mengurus anak-anaknya, bahkan untuk membuat rumah kecil yang sesederhana ini, ia harus ke hutan, berjuang sendiri mencari kayu yang cukup untuk dipakai sebagai tiang-tiang rumah sekaligus memotong bambu-bambu bulat, sedangkan anak-anaknya sepulang sekolah juga ikut serta membantunya mencabut dan mengumpulkan alang-alang di padang,begitulah seterusnya sampai menjadi banyak dan cukup untuk rumah mini balai bambu dengan atap alang ini. Bagi mama Martina yang terpenting ia dan anak-anaknya dapat terlindung dari terik panas dan hujan.
Melihat kerasnya perjuangan ibu seorang diri membuka tirai bagi anak-anaknya untuk bertumbuh lebih dewasa soal hidup diusia belia. Setiap harinya, sepulang sekolah, ibu dengan ke 2 putrinya (sulung dan ketiga) yang masih duduk di bangku SMP itu seolah berlomba untuk menenun kain, untuk menghabiskan bagiannya masing-masing demi memperoleh nilai jual yang lebih cepat dan dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka serta adik-adiknya.

"Ketika itu putri sulung saya hampir saja putus sekolah karena kendala biaya, ia berinisiatif tinggal dirumah saja membantu saya mengurus kebun dan adik-adiknya, saat yang sama keluarga kami dinyatakan menerima bantuan PKH, saya sangat bersyukur sebab berkat bantuan PKH anak sulung saya tetap bisa sekolah sampai sekarang, PKH sangat menyelamatkan keluarga kami" kata mama Martina mengisahkan sekaligus menutup cerita kami sore itu.

Sebagai seorang pendamping saya merasa bangga dan amat haru melihat keluarga kecil dengan cinta yang hangat ini, seorang ibu yang harus kuat bertahan seorang diri setelah kepergian suami, menemukan anak-anak yang mau menghabiskan masa kecil dan remaja mereka tidak dengan bermain atau bersenang-senang seperti anak seusia mereka, yang sudah mengenal nilai hidup dan kerja keras secara suka saat masih begitu dini.
Terima kasih untuk kesempatan bermakna ini. Perjuangan hidup mama Martina, membuat saya semakin yakin untuk menjadi anak muda Indonesia yang bisa memberikan cinta yang besar dan tulus untuk negara ini." ๐Ÿ™

๐Ÿ™Salam PKH ๐Ÿ™Œ
๐Ÿ’ชPKH Luar Biasa ๐Ÿ’ช

Comments:

Comment
Up Next Autoplay